19.7.12

Emon dan Gunung Gede-Pangrango


Pagi dini hari masih gelap, namun suasana di Persinggahan Kandang Badak sudah ramai. Riuh bukan dari tenda kami saja, namun juga tenda-tenda yang lainnya. Udara subuh-subuh ini sungguh membuat setiap pendaki harus menyematkan jaket tebal, sarung tangan dan kupluk. Satu per satu peserta kami keluar tenda, sesuai rencana, sekitar jam empat pagi harus siap untuk summit attack ke Puncak Gunung Gede, untuk berburu sunrise.
















Aku keluar tenda, teman-teman yang lain sudah berkumpul dibawah flysheet yang sekaligus digunakan untuk tempat berkumpul, makan, dan memasak. Lazuardi ‘Brewok’ sudah siap mengantar para peserta. Erik sudah siap membantu. Erik berkali-kali mengajakku ke Puncak Gunung Gede. Aku menolaknya, karena niat awalnya memang tak akan summit attack dengan pertimbangan tanjakan yang curam (ingat Tanjakan Setan-nya).

Kami tergabung dalam komunitas mendaki gunung. Ada sekitar 27 peserta yang ikut. Aku bukan pendaki gunung sejati atau pecinta alam yang membenamkan diri dalam kegiatan pendakian. Beberapa pekan yang lalu Lazuardi ‘Brewok’ mengajakku naik Gunung Gede bareng dengan para pecinta alam. Plus Erik juga meracuniku untuk ikut kegiatan ini. Sungguh tawaran yang susah ditolak.

Memang tak semuanya ikut summit attack, beberapa juga ada yang tak tertarik untuk hal itu, entah apa alasannya. Peserta yang mau summit attack berkumpul dan berdoa. Dan segera mereka bergegas menuju ke Puncak Gunung Gede. Aku sengaja menitipkan kameraku ke Erik, dengan harapan dia membawa oleh-oleh gambar amazing sunrise di puncak sana.

Para summitter sudah pergi. Yang lain masih meringkuk di dalam tenda, untuk menghindari dinginnya udara gunung di pagi hari. Aku dan Endang Herman atau yang akrab dipanggil Emon duduk di bawah flysheet. Emon merapihkan gelas bekas teh, kopi, dan susu hangat yang tadi dinikmati para summitter untuk mengusir dingin.

Pagi masih gelap. Bintang di langit masih bertaburan. Bulan tua yang berbentuk sabit masih terang di langit timur, terhalang sedikit oleh pepohonan. Hawa dingin juga masih menusuk tulang.

Merujuk ke pembagian tugas, sementara mereka ke Puncak Gunung Gede, Emon diminta menyiapkan sarapan. Dia didaulat menjadi porter, tapi bukan porter yang kami sewa melainkan oleh Pasutri, salah satu peserta yang membawa keluarganya. Aku dan Emon, bukan kali ini kenal. Aku mengenalnya ketika hiking ke gunung tersebut September tahun lalu bersama rekan-rekan dari Akar Rumput Adventure (ARA). Sosoknya memang sederhana dan selalu rendah hati, juga suka menolong.
















Dia bercerita panjang lebar tentang pengalamannya menjadi porter. Banyak sudah yang memakai jasanya, baik dari kalangan biasa maupun dari kalangan media, seperti Trans TV, Trans 7, dan yang terakhir bersama kru dari Metro TV. Mungkin sudah banyak orang yang mendaki ke Gunung Gede-Pangrango bareng dengan dia. Bahkan ada yang menyerahkan sepenuhnya segala urusan logistik dan angkat-mengangkat barang menuju puncak gunung kepadanya. Mereka begitu percaya terhadap service-nya. Aku pun tak memungkiri hal ini, menurutku dia memang profesional. Pengalamanku kemarin, memang memuaskan sekali, tiba di tujuan camping, tenda sudah berdiri alias tinggal ditempatin, bahkan didalamnya sudah disediakan sleeping bag. Minuman hangat sudah siap sedia, bahkan bisa milih, kopi atau teh. Soal makanan, sama enaknya dengan makanan di rumah, tidak seperti pendaki lain yang biasanya hanya bawa makanan instan, lauk-pauk seperti tempe/tahu goreng, ikan asin, tumis sayuran, sup sosis dan baso, juga nasi liwet, siap santap, bahkan ditambahin buah-buahan pula.
















Namanya juga taman nasional, pasti memiliki keunikan flora dan faunanya. Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) ini memang memiliki banyak sekali floranya. Aku bahkan sesekali memotret hijaunya dedaunan. Lumut-lumutan, aneka pakis, dan jenis paku-pakuan yang menempel di pohon tumbuh subur di lingkungan higrofit. Pohon-pohon besar juga ada. Bunga dari semak-semak juga sungguh indah. Bunga edelweis banyak tumbuh di Surya Kencana. Bahkan Erma sempet nemuin dandelion. Cantigi mendominasi Puncak Gunung Gede. Sedangkan untuk fauna banyak sekali dijumpai burung dan primata. “Bahkan macan, rusa, dan babi hutan juga ada.” kata Emon. Dia bercerita pengalamannya camping dilewatin oleh kucing besar. Waktu itu bukan musim camping dan dia camping saat weekdays yang biasanya tak seramai camping ketika weekend. “Kalau camping tidak rame mereka (hewan) bisa lewat tenda kita. Tapi kalau rame kayak gini nggak” terangnya.

















Air menjadi faktor yang penting bagi pendaki atau yang berkemah. Makanya banyak yang camping di sekitar Kandang Badak atau Alun-alun Surya Kencana. Jika di Kandang Badak ada pancuran air, sedangkan di Surya Kencana sumber air berasal dari kali kecil. “Kalau camping di Puncak (Gunung Gede) airnya dari mana Om?” tanyaku, karena sepengetahuanku di Puncak tidak ada sumber air. “Ya turun ke bawah, ke Surya Kencana” jawabnya.

Keunikan cuaca juga bisa ditemui di Surya Kencana. Emon pernah menjumpai bulir-bulir salju atau es di atas rerumputan. Pengalaman tersebut dia jumpai ketika membawa kru Metro TV beberapa pekan lalu. Suhu pagi itu saat salju ada yakni -2°C.

TNGP memiliki keindahan alam yang menurutku amazing, dan mungkin komplit. Jika mendaki melalui Jalur Cibodas seperti yang kami lalui akan menemukan banyak sekali spot yang menarik. Ada Telaga Warna yang tenang. Riaknya curug air panas akan kita lewati, sebelum melintasi Kandang Batu. Ini sekaligus juga sebagai jalan satu-satunya yang melintasi air terjun. Air Terjun Cibeureum juga sebetulnya kami lalui, namun aku tak pernah singgah ke air terjun tersebut karena jalurnya yang jauh dari jalur pendakian. Juga ada air terjun kecil setelah Kandang Batu. Hutannya masih cukup alami dengan lumut yang menutupi batang pohon.



















Pagi mulai merekah. Siluet Gunung Pangrango di depan tenda kami perlahan-lahan mulai pudar, menampakan wajah ‘aslinya’ karena terkena sinar matahari. Kami memulai tugas, Emon segera menyiapkan menu sarapan. Pertama kami merebus air. Kemudian memasak nasi. Aku membantu menggoreng dua bungkus otak-otak dengan mentega. Emon dengan cekatan menumis sayuran di atas trangia. Mengiris buncis dan cumi. Juga memasak ikan sarden dan menggoreng telur dadar. Keluarga Mba Retno keluar tenda, mereka tampak kelaparan dan mencari tabung gas dan kompor kecil yang sedang kami pakai. Aku meminta mereka bergabung dengan kami. Segera aku merebus air dan memasak mie instan pesanan mereka. Bismar yang setenda denganku ikut gabung. Dia tak bisa tidur nyenyak semalam. Ngakunya, pinggangnya sakit karena tidur beralaskan batu.

Menu sarapan sudah siap dan mungkin keburu dingin. Sementara teman yang summit belum nongol juga. Kami tunggu hingga pukul sepuluh pagi. Satu per satu dari mereka pun datang.






Tidak ada komentar: