5.1.14

‘Terapi Ikan’ Ala Sungai Cikawung


Pada suatu hari (jadi kayak dongeng…), beberapa anak-anak mandi di sungai Cikawung. Tak seperti biasa, mereka merasakan hal yang berbed. Ada hal yang janggal. Tubuh mereka terasa geli, serasa ada sesuatu yang menggigiti kulit mereka. Tak dinyana beberapa ikan-ikan kecil mengerubungi tubuh mereka dan menarik sesuatu yang menempel pada kulit mereka.

Kontan saja, kejadian ini mereka utarakan pada orang tua mereka. Dan beberapa orang mulai menyelidiki kebenaran informasi tersebut. Dalam beberapa hari informasi ini terus menyebar dari mulut ke mulut. Mulai dari tetangga, teman, rekan-rekan hingga bahkan menyebar melintasi desa, kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi.

Hingga kini berbondong-bondong orang datang untuk ‘terapi ikan’ di Sungai Cikawung, yang berada di perbatasan Desa Panimbang dan Desa Bantarpanjang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah untuk kesembuhan semata.





Beberapa literatur menyebutkan terapi ikan dapat mempercepat pertumbuhan kulit, melepas kulit mati, mengaburkan bekas luka, peremajaan kulit, bahkan memperlancar sirkulasi darah.

Titik yang banyak ikan-ikan ini adalah di dusun Cikadu dan Cibubuay. Kini sudah banyak orang yang merasakan manfaat adanya ikan ini. Tinggal datang mencelupkan kaki atau anggota tubuh lainnya kedalam air sungai. Atau juga bisa menyewa kursi yang disediakan oleh petugas, kemudian tunggu, dan beberapa ikan akan menggigiti kulit.





Beberapa cerita yang sempet didengar dari petugas disini yang menurutku agak lebay. Ada penderita stroke yang empat kali datang untuk terapi. Pada terapi yang keempat, dia datang dengan dibopong, dan pulang sudah bisa berjalan. Padahal apa hubungannya penyakit stroke dengan ikan? Entahlah. Namun memang begitu adanya.

Dampak dari fenomena ini, ekonomi warga sedikit terbantu. Beberapa ada yang menyediakan jasa parkir kendaraan, sewa kursi, dan menyediakan kudapan semacam kopi, teh, aneka gorengan dan jagung rebus. Di antara kudapan itu jagung rebus yang paling banyak peminatnnya. Bahkan ada yang sampai meninggalkan profesi sebelumnya beralih menjual jagung rebus karena keuntungan yang diperoleh lebih besar disbanding sebelumnya. Selain itu ada disediakan kotak sumbangan yang tertulis nama masjid.


Belum ada kajian ilmiah mengenai hal ini. Juga belum diketahui jenis ikan apa yang menjadi buah bibir masyarakat ini. Dan begitu pula sepertinya masyarakat yang belum mengerti dan menjaga kelestariannya, karena banyak sampah plastik dari kudapan yang dibuang begitu saja. Semoga ini bukan fenomena sesaat saja, dan meninggalkan cerita yang hanya angin lalu.


***

2 komentar:

nanang mengatakan...

sering2 posting mas....mampir juga di www.penjahitnanda007.blogspot.com

Ma'mur Sudrajat mengatakan...

siap Kang!!