6.5.12

Lepas Laper Di Lele Lela


Laperrrr..!!!

Bener-bener laper banget saat perjalanan pulang dari Ujung Genteng. Setelah kelewatan beberapa warung makan akhirnya kami memutuskan makan di Pecel Lele Lela.

Interiornya didominasi dengan warna hijau muda yang ngejreng, sehingga fresh banget suasananya. Apalagi waktu itu aku, Lazuardi, Erik, Elin dan Yeni, menikmatinya pas senja datang.

Bolak-balik buka buku menu yang disodorkan pelayan. Semuanya banyak berderet menu dengan lele sebagai bahan utamanya. Namun ada juga menu non-lele.

Aku memilih lele lada hitam, lele cabe ijo dipilih oleh Elin. Lazuardi memesan lele saus padang, dan Yeni jatuh hati pada lele crispy. Sedangkan Erik, beda sendiri, ayam bakar madu. Cah kangkung kami pilih sebagai menu pendamping.

Pedes..??!! Tentu saja semua menu lele yang kami pesan rasanya pedes. Lele saus padang dan lele cabe ijo jelas pedes dari cabenya. Disajikan dengan lele goreng tepung utuh.

Lele Saus Padang

Lele Cabe Ijo






























Untuk lele lada hitam, pedesnya beda dengan cabe. Ada sensasi terasa anget ditenggorokan dari ladanya. Saus untuk lele crispy juga pedesnya nggak ketulungan. Keduanya disajikan dengan dengan lele fillet, jadi nggak khawatir durinya ketelen.

Lele Lada Hitam
















Untuk minuman kami memesan es buah yoghurt. Tampilannya memang mirip banget dengan es sup buah (atau minuman ini memang terisnspirasi dari es sup buah?), tapi biasa es sup buah memakai susu, ini disubstitusi dengan yoghurt. Seger...

Es Buah Yoghurt






















Bener-bener unik resto ini. Disaat banyak warung makan atau resto yang biasanya menghadirkan menu utama ayam (ayam goreng), yang ini hadir sendiri dengan menghadirkan menu yang tak umum. Patut dicoba deh...

Selain itu, pengunjung yang bernama Lela bisa makan gratis seumur hidup. Dan yang kebetulan ulang tahun, dengan penunjukan KTP atau tanda pengenal lainnya akan mendapat makan gratis pula. Wah... kebetulan banget, diantara kami tak ada yang bernama Lela ataupun lagi ulang tahun.


18.4.12

Crazy Over In Ujung Genteng: Jebakan Betmen

Makin indah suatu tempat, biasanya makin sulit medan yang akan kita lalui. Tidak hanya faktor alam saja yang bisa kita bikin nge-trip tak menyenangkan, namun juga bisa faktor lain. Begitu juga dengan trip ke Ujung Genteng, Sukabumi. Banyak jebakan betmen yang sempat kami temui.

Jangan heran jika menuju ke Ujung Genteng kita akan diobok-obok di dalam kendaraan. Memang jalanan sudah rusak mulai dari Lembursitu hingga Ujung Genteng. Kita akan menikmati sensasi ajrut-ajrutan di dalam mobil selama perjalanan. Juga kondisi jalan yang cukup sempit, berkelok-kelok, berlubang, plus jurang disamping jalan, karena jalan menuju kesana berbukit-bukit. Sehingga kita musti hati-hati.

Selain jalanan rusak ketika menuju ke Ujung Genteng, jalanan rusak pun kami temui ketika menuju ke Pantai Pangumbahan. Jalan penuh kubangan lumpur, licin, dan becek (jika musim hujan). Jadi siap-siap saja jika kendaraan baru saja dicuci akan berubah warna menjadi warna lumpur. Nah... ketika kami menuju ke Pantai Pangumbahan, kami mengikuti arah penunjuk jalan. Ternyata, petunjuk arah tersebut ‘menyesatkan’. Kita akan menuju ke jalan yang rusak plus kubangan lumpur. Namun jika ikuti arah ke Cibuaya, akan cukup ‘aman’ dilalui. Selain menghemat waktu, juga perjalanan tak akan menyebalkan.

Beda lagi di Curug Cikaso, para ‘supir’ perahu dengan segera siap siaga mengantarkan pengunjung. Dengan harga tiket yang bikin dompet kempes. Padahal menuju ke Curug Cikaso tinggal melangkah saja beberapa meter lewat tepian sawah sudah nyampe. Dan tukang tiket tak akan memberikan informasi ‘jalur alternatif’ itu begitu saja.

Dikira yang menawarkan jasa perahu sudah sepaket dengan jasa guide. Tak taunya guide minta bayaran lagi.  Memang sih guide ini minta fee seikhlasnya, tapi kan kalau tidak ngomong dari awal, enek juga jadinya. Guide ini akan nebeng alias main slonong-boy begitu saja naik ke perahu, dan sang ‘supir’ perahu hanya cuek bebek, guide itu naik.

Lazuardi 'Brewok' bernegosiasi dengan petugas tiket di Curug Cikaso.















Tak hanya soal wisata, kulinernya pun sama. Niatnya mau menikmati makan malam dengan menu kuliner yang mendekati khas daerah situ. Tapi tak satupun resto, rumah makan, atau warung makan yang menyediakan kuliner khas. Akhirnya kami putuskan menuju ke salah satu rumah makan. Mobil diparkir dihalaman. Desain rumah makan ini memang cukup unik. Dengan saung yang menghadap langsung pantai, ditemani deburan ombak kecil. Duduk lesehan diatas karpet polos. Kemudian dengan cukup lama menunggu pelayan datang membawa buku menu.

Walaupun menu yang ada di daftar dalam buku menu banyak dan menyediakan sea food, jangan disangka akan menikmati menu lezat tersebut. Yang ada hanya nasi goreng cumi (*spesifik hanya yang kami alami). Erik meminta nasi goreng dengan telur dadar, tak dinyana menu tersebut tak tersedia dengan alasan telurnya tidak ada, namun ketika memesan nasi goreng spesial (dengan telur, tapi bukan telur dadar) jawabannya ada. Lalu apa bedanya nasi goreng telur dadar dengan nasi goreng spesial yang memakai telur juga?

Panorama laut dan lampu rumah penduduk, diambil dari saung resto.















Dari segi pelayanan, sempet pula pelayan salah mengirimkan minuman. Kami tidak memesan es teh, eh... yang datang malah es teh, tentu saja kami bengong. Dan mengkonfirmasi lagi bahwa kami tak memesan minuman tersebut.

“Arrghhh.... sekali lagi kayak itu, gue nyebur ke laut” keluh Ellin.

“Mas, tolong bill-nya yah” pinta Ellin untuk mengetahui berapa uang yang harus dirogoh kocek ketika selesai dinner. “Lin kamu nggak salah bilang bill. Nanti malah bir yang datang” timpali kami karena teringat ‘kelakuan’ pelayan tadi.

 Mending nyari warung nasi padang saja, yang jelas menunya!

17.4.12

Crazy Over In Ujung Genteng: Si Manis Dibalik Gubuk

Di sekitar kanan-kiri jalan menuju ke Pantai Ujung Genteng, pasti akan melewati kebun kelapa. Jika kita jeli, ternyata pohon kelapa itu tidak berbuah. Di atas, diantara pelepah daun kelapa sudah bergelantungan jerigen yang diikat untuk menampung nira dari bunga kelapa. Di antara pohon-pohon kelapa dan semak-semak terlihat gubuk, tempat mengolah nira kelapa menjadi gula merah.

Pagi itu sebelum sampai di Pantai Ujung Genteng, kami menyempatkan berkunjung ke salah satu gubuk. Kami memilih gubuk yang ada kepulan asapnya. Jika ada kepulan asap, maka ada orang yang sedang mengolah nira.

Kami bertemu dengan dua orang pekerja di gubuk itu. Sepertinya mereka suami istri. Sang suami yang mengumpulkan nira kelapa. Memanjat beberapa pohon dan kembali ke gubuk, menyerahkan hasilnya kepada sang istri untuk diolah menjadi gula merah.

Gubuk beratapkan alang-alang. Di depan sudah tersusun rapih kayu bakar untuk memasak nira. Masuk kedalam, tampak sang perempuan paruh baya sedang memasak nira.

Nira dimasak sekitar 12 jam. Jika pagi ini dimasak maka akan menjadi gula merah sore atau malam kemudian. Dan api harus dijaga tetap menyala. Nira dimasak dalam wajan yang besar. Ditengah telah dipasang anyaman bambu melingkar supaya jika nantinya berbuih sewaktu dimasak maka tidak akan meluap keluar wajan, melainkan masih tertampung di wajan.

Membawa nira.

Baru selesai mengambil nira.

Memasak nira dengan tungku tradisional.

Yeni dan Erik santai di depan gubuk pengolahan nira.
































































Niatnya, Erik akan membeli gula merah hasil olahan mereka sebagai oleh-oleh. Dan Lazuardi ‘Brewok’ ingin mencicipi air nira. Namun sayang seribu sayang, air nira sudah dimasukan kedalam wajan semua, dan tentunya gula merah juga belum jadi. Akhirnya mereka memesan untuk diambil besok.

Sepertinya gula merah ini memang bisa dijadikan oleh-oleh khas Ujung Genteng. Namun sayang tak tampak satu pun saung di pinggir jalan yang menjual gula merah ini. Mereka malah menjualnya kepada tengkulak dengan dibanderol harga yang minim.

Keesokan harinya saat pulang, kami mampir ke gubuk kemarin. Namun rupanya kami sedang tidak beruntung. Ibu sang pengolah nira, telah mengirim gula merah tersebut ke Sukabumi. Hanya tinggal sang suami yang baru akan memulai menyadap nira. Dapur pengolahan juga tak berasap dan tak ada aktifitas pengolah nira.

Dari Amandaratu kami mampir ke gubuk pengolahan gula kelapa. Kami memang tak ngeh kalau disekitar Amandaratu bisa dapat gula merah langsung dari yang pembuatnya. Kami baru tahu bahwa kami bisa mendapatkan gula merah, saat kami melihat serombongan pengunjung yang baru saja membawa gula merah. Meninggalkan salah satu gubuk. Setelah rombongan tersebut meninggalkan gubuk, kami menghampiri gubuk tersebut.

Tampak ibu-ibu berperawakan gemuk dengan menggendong anaknya di dalam dapur gubuk tersebut. Awalnya Ibu tersebut sepertinya enggan menjawab bahwa ada gula merah. Beliau menjawab bahwa harga per kilonya (kg) malal. Namun Erik mendesak dan akan membelinya. Tak lama kemudian Ibu tersebut menunjukan gula merah tersebut. Ukurannya super jumbo. Satu kilogram dengan ukuran sekaleng susu mungkin.

Air nira yang dimasak mulai berbuih.

Ellin sedang membuat ramuan anti-galau.

Gula kelapa/merah.

Sibuk mengolah nira.

Menikmati kebersamaan dengan anak-anak.














































































Erik memesan gula merah tersebut. Nira yang diidam-idamkan Lazuardi juga ada. Dia membeli satu botol ukuran air mineral penuh. Kami pun mencoba mencicipi rasa nira kelapa tersebut.
Tungku dengan wajan berisi nira sedang dimasak. Buih air nira yang dipanaskan muncul, meluap ke bawah anyaman bambu, namun tetap masih tertampung di wajan. Masih menunggu beberapa waktu lagi hingga siap menjadi gula merah.

Akhirnya apa yang diharapkan Erik dan Lazuardi terwujud sudah. Dapat gula merah sebagai oleh-oleh, mendapatkan langsung dari pembuatnya. Kami bisa mencicipi rasa nira yang manis-manis gimana gitu..!! Dan melihat langsung pengolahan nira menjadi gula kelapa walaupun tidak seluruhnya.