16.8.12

Denyut Pagi Karang Aji


Dari persinggahan kami di Cimaja, Sukabumi, subuh-subuh kami langsung meluncur. Meliuk di jalanan Cisolok-Cimaja dengan kondisi naik turun, dan lebar jalan yang pas untuk dua mobil ukuran biasa. Di sisi kiri terdengar deburan ombak Samudera Hindia, kadang terhalang oleh penginapan, rumah penduduk, teras untuk bersantai dan kebun-kebun. Walaupun jalanan dekat pantai, namun kondisinya tidak landai, alias naik-turun.

















Kami berhenti di dekat dua tower telekomunikasi, dengan kontur tanah lebih tinggi dari area sekitar, terpampang papan bertuliskan Karang Aji. Masuk ke dalam kebun kelapa yang ada di sekitarnya. Menembus ilalang kering yang gatal setinggi lutut kami, dengan jalan setapak berbatu yang telah ditata rapih. Terlihat ke bawah dengan panorama lautan yang luas, dengan bertabur perahu-perahu nelayan yang hilir mudik dari dan ke pantai.
Disisi sebelah timur, ada “space-area” dengan dinding tembok setinggi pinggang, langsung bersebelahan dengan jurang yang langsung ke laut. Terlihat dibawah ada dermaga kecil. Para nelayan membongkar muatannya. Laki-laki dan ibu-ibu di pinggir pantai berlari cepat mennyambut perahu nelayan yang baru tiba.

















Terlihat pula rumah-rumah penduduk, dengan atapnya yang berwarna orange kumal. Hamparan pasir pantai, dengan dermaga kecil yang terbuat dari tumpukan batu.

Sunrise yang kami nanti tak tampak di ufuk timur. Langit diselimuti kabut yang menghalangi sinar dan gagahnya matahari. Yang ada langit berwarna abu-abu. Matahari hanya nongol sebentar, lalu tertutup awan kelabu tipis lagi. Secepat kilat itu pula matahari menghilang.
















Kami hijrah ke arah barat, berharap masih ada moment ciamik yang lainya. Kami memarkir kendaran di dekat salah satu TPI (tempat pelelangan ikan). Suasana masih belum terlalu sibuk ketika kami datang. Lelaki masih duduk-duduk santai di bangku-bangku dibawah atap saung-saung sederhana.

Di pantai ombak berderu cukup manja. Riuh anak-anak bermain bola. Memamerkan atraksi melambungkan bola ke langit, dan meng-over ke teman lainnya. Muda-mudi tampak sedang asyik menikmati pagi dengan berjalan santai sambil kaki mereka ‘dielus-elus’ oleh ombak. Anak kecil tampak gembira mandi di pantai. Di sebelah barat tampak hutan yang kering karena musim kemarau. Nelayan mulai beraktifitas. Kami sibuk mencari moment. Niko malah antusias membidik matahari yang mulai meninggi di sebelah timur.



















Tali seukuran jempol kaki orang dewasa menjulur dari darat ke laut. Rupanya ini ada tali penahan perahu nelayan ketika tertambat. Tak lama kemudian suara mesin perahu meraung. Perahu menghampiri pantai, lelaki yang ada di pantai segera berlarian menuju ke arah perahu itu. Tangan-tangan mereka dengan sigap menerima beberapa keranjang dengan bobot sekitar 30-an kg, berisi ikan sulayang, seukuran stabilo. Ada juga drum plastik berwarna biru. Yang ini mereka harus mengangkutnya dengan tenaga dua orang.

Ikan kecil segar terkumpul di pantai. Warga berkerumun menghampiri hasil tangkapan tersebut. Sementara itu para tengkulak mulai menghitung hasil tangkapan baik di dalam keranjang bambu atau pun yang didalam drum plastik. Dan traksaksi pun dimulai.







Tidak ada komentar: