26.8.12

Suatu Sore Pada Musim Kemarau Di Bantarmangu


Jalanan desa yang hanya selebar mobil kecil terasa begitu menyiksa. Aspal terkelupas diganti dengan batu-batu kecil, plus debu yang tebal, membuat siapa yang saja yang berjalan harus mengenakan masker. Semak-semak mengering, banyak pepohonan yang menggugurkan daunnya. Sungai kecil telah mengering, namun sungai besar masih menyisakan airnya (sedikit). Ini bulan Agustus, puncak dari musim kemarau.



















Itulah sedikit keadaan Desa Bantarmangu, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap. Desa tersebut tak jauh dari Jalan Utama Jalur Selatan Jawa. Jarak dari Jalan Utama, kira-kira 2 km, desa tersebut bisa dijangkau dengan mudah, namun untuk menuju kesana tidak ada angkutan umum selain ojek atau mobil bak terbuka. Mobil bak terbuka hanya pada jam-jam tertentu saja, seperti pagi hari saat penduduk akan berniaga, menjual hasil bumi ke desa lainnya. Untuk ojek ada selama 24 jam.

Jangan dibayangkan desa ini jauh dari ‘peradaban’ walaupun mungkin melihat kondisi jalanan yang rusak. Rumah-rumah penduduk rata-rata sudah berdinding tembok, dan warga sudah memiliki motor. Mata pencaharian mereka kebanyakan bertani. Selain itu juga merantau ke kota.

Sore itu, anak-anak kecil tampak asyik mandi di sungai, tepatnya di dam, dekat Jembatan Kali Kawung. Air memang sedikit, namun adanya cekungan dekat dam membuat air yang tertampung bisa untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci dan mandi, bahkan ada yang memancing dan memelihara ikan (sedikit) di dalam keramba sederhana.



Tak peduli apakah ini dikatakan pornografi atau apa, tak sehelai pun kain yang menutupi anak-anak itu berenang. Melompat dari atas dam, saling menceburkan diri ke air, atau lomba renang hingga suatu titik. Di sisi lain, ibu-ibu tampak sibuk mencuci pakaian. Tiga pria berdiam duduk santai diatas batu, menunggu ikan memangsa umpan pada kail mereka.




















Tak jauh dari situ, ada tanah lapang. Para remaja bersepatu dan perpakaian olahraga asyik memainkan si kulit bundar. Olah raga sore memang menjadi kegiatan rutin remaja disini. Lapangan dengan rumput yang mulai mengering dan gawang tanpa jaring. So simple.



















Sunset, memang tempat ini unrecomended buat kegiatan hunting foto. Sulit mencari objek yang ciamik. Karena di sebelah barat sudah ada bukit yang menghalangi moment matahari tenggelam. Jika sedikit jeli, dan mau naik ke atas tanah yang sedikit tinggi maka akan mendapatkan sunset, namun itu pun tak ‘seberapa’. But itu pun tak bakal mengecewakan kok!

Tidak ada komentar: