22.5.12

Sejuknya Wana Wisata Curug Cipendok


Aku menyangka hanya aku seorang yang mengunjungi Curug Cipendok pagi itu. Padahal, ini weekend, kok sepi banget? Di area parkir kendaraan juga hanya tampak sebuah mobil dan sebuah motor. Warung disekitar curug juga tampaknya baru membuka dagangannya. Ditambah ketika sampai di Curug Cipendok, hanya ada dua pengunjung.

Rupanya, aku ‘terlalu pagi’ berkunjung ke Wana Wisata Curug Cipendok. Pengunjung biasanya datang menjelang siang, atau sekitar 10:30-an.

Curug ini memang cukup mudah diakses. Ambil jalan dari Purwokerto-Ajibarang, atau arah sebaliknya. Di Cilongok, kita ikuti penunjuk arah ke Curug Cipendok, sekitar 10 km dari jalan raya. Kita akan memasuki jalan-mobil-kecil, dengan kondisi jalan yang cukup mulus, dan kadang banyak lubang. Ketika mendekati destinasi, jalan tanjakan akan terus dijumpai. Kemudian melewati areal perkebunan yang diperuntukan untuk menanam rumput gajah untuk pakan ternak. Tak jauh dari situ, lokasi Curug Cipendok sudah dekat, tandanya kita akan menemui gapura, tempat loket karcis masuk kawasan wisata.

Curug Cipendok terletak di Desa Karang Tengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Dapat ditempuh dari Kota Purwokerto sekitar 25 km. Destinasi ini berupa air terjun dari kaki Gunung Slamet, yang dikelilingi oleh pemandangan alam dan hutan, kehidupan tradisional masyarakat (tani) juga bisa disaksikan.

Dari lokasi parkir kendaraan, kita harus berjalan kaki naik jalanan dan tangga berbatu yang ditata rapih, sekitar 500 meter. Di samping, kita bisa melihat pemandangan persawahan yang berundak. Sesekali kabut terlihat melayang didepan mata.

Udara lembab terasa ketika memasuki kawasan curug. Kabut sesekali turun, namun tidak begitu tebal. Lumut hijau yang ‘subur’ di area higrofit menyelimuti bebatuan. Ketika sampai di Curug, titik embun air menerpa anggota tubuh bagai ‘sambutan hangat’ dari ‘tuan rumah’. Sejuk...

 Curug Cipendok















Curugnya amazing banget. Memiliki ketinggian 92 meter, air tumpah menghujam ke bawah begitu saja. Tampak juga bebatuan di pinggir air terjun. Sinar matahari tampaknya tak diberi kesempatan menyinari, menjadikannya lembab. Ketika turun maka harus berhati-hati karena pegangan tangga tidak ada, dan kondisi jalan bebatuan juga basah (potensi licin).

Jalan setapak menuju Curug Cipendok & lumut yang tumbuh di atas batu.
















Nama Cipendok sendiri berasal dari kata curug yang berarti air terjun dan pendok yang berarti cincin dari bilah keris. Konon menurut legenda, Raden Ranusentika menemukan pendok keris, dikawasan tersebut. Selain itu juga beliau menemui seorang makhluk halus berwujud peri bernama Dewi Mesinten Putri Sudhem yang bersedia membantu menyelesaikan pekerjaan pembukaan hutan tersebut. Akhirnya, pekerjaan pembukaan hutan tersebut selesai. Kemudian Dewi Mesinten Putri Sudhem menjadi garwa padmi (selir) Raden Ranusentika, dan diboyong ke Kadipaten Ajibarang.

Untuk pengelolaan sendiri, aku memang ajungkan jempol. Kawasan wisata ini masih dikelola oleh masyarakat sekitar (eco-tourism). Oleh karen itulah, kita akan terkejut melihat harga tiket masuk dan tiket parkir. Sebagai catatan, parkir motor, setara harga parkir mobil.

Tidak ada komentar: