21.10.14

Geopark Ciletuh – Curug Sodong









Destinasi berikutnya, namun masih dalam Geopark Ciletuh, Sukabumi, adalah Curug Sodong. Lokasi memang jauh dari Curug Awang. Ditambah dengan kondisi jalan yang hancur.

Jika menuju ke Curug Awang kami harus berjalan kaki terlebih dahulu menuruni sawah warga yang berundak, maka curug ini hanya beberapa meter saja dari tempat parkir kendaraan. Bahkan di depan tempat parkir pun bisa menikmati curug yang memiliki dua air terjun ini.

Namun untuk kegiatan ‘main air’ (baca: berenang) sangat tidak diperkenankan karena menurut guide kami, curug ini memiliki lubang air yang dalam di bawah air terjun. So, cukup lihat-lihat saja. Tidak rugi juga kan?

***

16.10.14

Geopark Ciletuh – Curug Awang

















Alam yang masih cukup perawan, kalau boleh saya mengatakan seperti itu. Bentangan alam Geopark Ciletuh, Sukabumi memang membawa kita akan sebuah keajaiban alam yang mengundang decak kagum. Formasi batuan unik, alam yang indah, air terjun (curug) yang tersebar dimana-mana, bentang alam yang sangat seperti horizon.

Salah satu sudut Geopark Ciletuh, Panenjoan, dan Curug Awang yang keduanya jaraknya tak terlalu jauh. Petualangan kami mulai dari sini.

Melihat bentangan alam yang luas akan dipuaskan di Panenjoan. Mirip lembah, dengan ujung sana berupa pantai. Curug Awang, yang masuk ke kebun kelapa dan sawit, menyusuri jalan kecil pas untuk satu kendaraan roda empat, dan jalanan berbatu. Curug yang tinggi dan formasi batuan seperti batuan purba. Air mengalir terus walau musim kering seperti ini. Di pinggir curug terdapat sawah dengan kontur tanah berundak. Awesome!

Rasanya tak terbayang sebelumnya, alam yang begitu unik dan indah ini ada di Indonesia. Bahkan di Jawa Barat, yang notabene dekat dengan Ibu Kota Jakarta.


***

20.9.14

[Coffee Break] Historia




















Baru buka beberapa bulan yang lalu, kafe ini sudah nge-hits di jagat maya, khususnya instagram. Atas ajakan teman, siapa pula yang mau menolak untuk mengunjungi tempat ngopi dan santai di Kawasan Kota Tua, Jakarta.

Aneka makanan berat dan ringan, juga aneka minuman, komplit ada dalam daftar menu. Sekilas memang tampak biasa, namun jika diperhatikan, menu yang ditawarkan merupakan menu-menu tempo doeloe.

Es Tajin, yang kedengarannya sudah agak dilupakan sekarang ini, hadir di Historia. Kemudian kudapan Gemblong Pisang, yang menurut saya baru mendengar menu ini lagi. Terakhir sewaktu duduk di bangku SD. Kopi Tubruk menjadi teman santai kami selanjutnya, ditambah chicken wings sebagai representative menu non-manis, juga Es Jenggala yang terdiri dari leci, jeruk, dan daun mint, yang pas dinikmati pada cuaca siang yang panas.

Interior kafe Seperti kembali ke jaman kolonial, sambil santai menikmati lukisan dinding yang menjadi ikon kafe ini, juga bebas untuk memotret dengan latar belakang ikon tersebut (berbeda dengan kafe lain yang biasanya membatasi untuk memotret). Sepertinya  manajemen Historia paham betul akan penggunaan media sosial sebagai media promosi mereka, terutama posting-an dari para pengunjung. Cerdas!


***