11.4.12

Crazy Over In Ujung Genteng: Cerita Curug Cikaso

Curug unik nan indah dan tiada duanya ini memang menjadi daya tarik sendiri ketika nge-trip ke Ujung Genteng, Sukabumi. Curugnya anggun dengan air terjun yang menyebar dan memiliki tiga air terjun dalam satu tempat. Rupanya keunikan curug ini juga memiliki cerita (semacam mitos) dari masing-masing air terjun itu.

Curug Cikaso, konon air terjun itu pernah disinggahi "seseorang" yakni,
Pante Butah (kiri), Nyi Roro Kidul (tengah), dan Ulung Sakti (kanan). 
















Masih terlalu pagi saat kami tiba di Curug Cikaso. Kami berhenti di area parkir kendaraan yang dekat dengan ‘dermaga’ perahu dan sawah yang hanya beberapa petak, dengan loket tiket yang masih sepi. Tengok kanan-kiri kami tak menemukan orang yang menjaga loket atau orang yang bisa kami minta keterangan dimana lokasi Curug Cikaso berada. Barangkali kami pengunjung pertama. Kami* berkeliling sebentar. Ketepian ‘dermaga’ tempat perahu sungai tertambat. Sungai yang cukup besar, dengan berwarna cokelat lumpur, dan ada jejak air agak meluap kepinggiran, bekas hujan tadi malam. Tak berapa lama seorang berperawakan kecil datang, menawarkan jasa perahu yang siap mengantarkan kami ke curug. Kemudian tak berapa lama berikutnya, bapak-bapak dengan perawakan besar muncul, sang penjaga loket tiket.

Setelah Lazuardi ‘Rantip’ bernegosiasi perihal tiket dan biaya perahu, akhirnya kami naik perahu. Kami berlima duduk diatur. Tiap satu bangku satu penumpang supaya perahu tetap seimbang. Seorang mengatur mesin kemudi dibelakang, dan seorang didepan (entah apa perannya sebenarnya). Kami kira perjalanan ke Curug Cikaso menempuh jarak yang jauh dan akan memakan waktu yang cukup lama sehingga kami memutuskan naik perahu, rupanya hanya beberapa langkah saja bisa dijangkau. Aduh...!! Bang penjaga loket kenapa nggak bilang-bilang kalau jaraknya cuma selangkahan kaki doang?

Perahu ini siap mengantarkan kami ke Curug Cikaso.

Suasana di perahu.





























Hanya beberapa menit perahu berjalan, masuk ke sungai kecil, dan mendekati air terjun. Perahu menepi. Tak jauh suara riak air jatuh menghujam ke sungai terdengar.  Terus mendekati, semakin terasa titik-titik air, efek dari air terjun yang tertiup angin terasa di wajah. Udara pagi dan embun terasa basah. Tiga air terjun berjejer ‘menumpahkan’ airnya begitu saja. Itulah keunikan Curug Cikaso, yang memiliki tiga air terjun.

Dibalik keindahan dan keunikannya, Curug Cikaso memiliki cerita tersendiri. Menurut apa yang aku dengar dari sang local guide (akhirnya kami tahu bahwa orang yang tadi didepan perahu itu adalah seorang guide) konon ketiga air terjun itu pernah disinggahi “seseorang”, yakni Pante Butah, Nyi Roro Kidul (tengah), dan Ulung Sakti (agak terpisah sendiri).

Curug ini digunakan oleh Ulung Sakti untuk  menikahkan anaknya, oleh karena itulah dulunya masyarakat setempat menyebutnya Curug Pengantin. Kemudian sejak tahun 2000, pemuda dan tokoh masyarakat setempat merubah nama curug tersebut menjadi Curug Cikaso, dan mulai dipromosikan sebagai destinasi wisata.

Karena perubahan nama itu dikhawatirkan akan membawa sesuatu yang tak diinginkan, maka masyarakat “meminta izin” sebelum perubahan nama curug itu. Mereka mengadakan potong kambing hitam, dengan “mempersembahkan” kepalanya ke curug. Dan sejak perubahan nama itu, konon tidak ada masalah dengan tempat itu.

Agak menggelitik juga bisa mengetahui sedikit cerita dibalik Curug Cikaso. Aku selesai memotret panorama air terjun itu. Elin sibuk bernarsis ria, Erik seperti anak kecil yang baru nemu air, langsung nyebur ke sungai dibawah curug dengan pakaian renangnya, dan tanpa menghiraukan air sungai pagi itu yang super-duper dingin. Di atas bangku coran, Lazuardi memasak mie instan di atas  tungku gas kecil yang biasa digunakan saat camping, ditemani Yeni yang asyik ngemil snack Lays.

Kami semua menghampiri Lazuardi. Elin langsung menyambar Pop Mie yang baru dimasak Lazurdi. Disusul Yeni. Erik dan aku asyik menikmati Sari Roti rasa cokelat. Inilah sarapan ala anak camping. Sambil disisipi obrolan seru, apalagi Elin dan Erik suka ngebanyol, tambah ngakak deh. Sarapan ceria!

Payah! Baru nyampe Cikaso udah encok.















Rasanya ada yang kurang? Oh ya..! kita belum foto bareng. Akhirnya kami menuju ke lokasi didepan persis tiga air terjun itu. Kami sambil minta tolong difotoin sama guide-nya, kami bergaya dikit. Kemudian Lazuardi minta difoto sendiri, dan juga ada foto berdua dengan Erik. Dan hasilnya? Zya ampuuunn... Lazuardi berpose dengan gaya ‘orang sakit pinggang alias encok’. Mungkin efek nge-drive dari Jakarta hingga Ujung Genteng, selama kurang lebih tujuh jam.

*Lazuardi, Elin, Erik, dan Yeni.

26.3.12

Menikmati Kuliner Banyumas Di Jalan Bank

Siang itu matahari sangat terik. Panasnya terasa hingga ke ubun-ubun, dan tubuh seakan-akan meleleh. Padahal ini masih bulan Maret, masih musim penghujan. Mencoba berjalan disepanjang trotoar Jl. Wiriaatmaja, Purwokerto, atau lebih di kenal dengan Jl. Bank, untuk menemukan kuliner pas untuk menetralisir hawa panas yang menyengat.

Tampak warung makan Soto Khas Banyumas. Jika mata tak jeli maka akan cukup sulit menemukan tempat ini. Karena berukuran kecil dengan bangunan yang sudah tua. Namun terpampang di atas pintu masuk nama warung tersebut, Soto Jalan Bank H. Loso.

Melihat menu yang ditawarkan, semua manyajikan menu khas Banyumas. Dengan menu andalan Soto Banyumas, atau sering disebut orang, sroto. Menu ini memang khas dari kabupaten yang terkenal dengan logat jawa ngapak-nya.

Sambil menunggu sroto yang aku pesan, di meja sudah tersedia mendoan. Ya... makanan berupa tempe dan dilumuri tepung dengan digoreng setengah matang. Karena digoreng setengah matang maka akan terasa nikmat jika disantap saat hangat. Bumbu yang khas dan bertabur potongan daun bawang kecil-kecil menambah citarasanya. Cocok sekali disantap sebagai cemilan saat santai.

Mendoan















Menu andalan tiba. Saatnya mencicipi sroto. Satu mangkuk sroto berisi irisan kupat, tauge, bihun, krupuk mie kuning, dan tentunya suwiran daging ayam plus taburan potongan bawang daun. Kuahnya begitu segar, sambalnya berupa sambal kacang. Sungguh nikmat menu berkuah ini disantap saat siang hari.

Sroto atau Soto Banyumas















Untuk minuman aku memesan es kuwut. Sungguh pilihan yang tak salah jika memilih minuman ini, sangat cocok jika dinikmati saat siang yang teriknya minta ampun ini. Es ini teridiri dari irisan melon, dan kelapa muda. Ditambah gula cair dan perasan air jeruk nipis. Sensasi kecut-kecut rasa khas jeruk nipis mampu menetralisir hawa panas siang itu. Benar-benar seger di kerongkongan. 

Es Kuwut
 





















Akhirnya siang ini pun tak begitu tersiksa dengan panasnya matahari. 




12.3.12

Menemukan Destinasi Lain Di Bogor

Mungkin sebagian dari kita belum mengenal atau sedikit yang mengetahui destinasi yang tak ‘umum’ ini. Memang tempatnya ada yang mudah dijangkau, ada pula yang harus ‘berjuang’ untuk menuju kesana. Bisa rileks dan merasakan ketenangan, dan menikmati kuliner unik.

Rileks Sejenak Di Kuntum Nursery

Akan mudah dijangkau jika dari arah Ciawi. Keluar Pintu Tol Ciawi, belok kanan ke Jalan Tajur. Memang jika tak jeli akan sulit menemukannya, bahkan papan namanya juga cukup kecil.

Tempat ini memang semacam toko yang menjual berbagai tanaman hias, namun kita juga bisa santai dan rileks di sini. Selain bunga-bunga dan bibit pohon juga ada kolam ikan dan cafe, juga tersedia agro wisata. Duduk-duduk santai di cafe sambil menikmati jajanan Bogor. Dengan bangku dan meja yang menghadap ke kolam. Kegiatan memberi pakan ikan yang berwarna-warni di kolam ikan sangat digemari oleh anak-anak. Dengan sendirinya ikan-ikan akan mendekat. Selain itu juga bisa menikmati agro wisata dengan mengunjungi mini farm yang berada di belakang. Ada peternakan domba dan kambing, unggas, dan marmut yang imut.































Di Jalan Tajur, tak sengaja kami menikmati kuliner yang khas. Memang bukan makanan khas Bogor, tapi makanan khas daerah lain. Telor bakar/panggang. Kuliner khas dari Brebes. Telor panggang ini dibuat dari telur bebek asin. Setelah proses pengasinan, tidak direbus seperti telor asin lainnya, melainkan di bakar atau dipanggang. Rasanya unik, berbeda dengan telor asin yang direbus. Tercium sensasi khas makanan yang dibakar, seperti pepes ikan. Penjualnya, sepertinya berasal dari daerah menu tersebut. Itu terdengar dari logat bicaranya yang ngapak.
















Ketenangan Di Tamansari, Gunung Salak

Khas daerah yang berada di pegunungan, hawa sejuk. Tenang dengan sedikit penghuni. Tampak ada aktifitas komunitas sepeda sedang memulai mengayuh sepeda di jalan kecil beraspal menuju ke medan yang lebih tinggi. Ditemani dengan pemandangan luas melihat langit yang tak berbatas.

Sebelum memulai perjalanan, kami singgah disebuah warung. Tadinya ku pikir menu yang ditawarkan biasa saja, namun dugaanku salah. Makan siang kami disuguhi telur dadar, dan sayur asem, dan ditemani sambal bongkot. Oke untuk telur dadar dan sayur asemnya aku tak akan membahasnya, hanya sambal bongkot saja. Rasanya tak seaneh namanya. Sambal ini berbeda dari sambal-sambal lainnya, yang didominasi oleh cabe. Namun sambal ini terbuat dari kecommbrang, yang diiris kecil-kecil. Tidak begitu pedas namun sedep dari kecombrangnya.
















Menaiki tangga sedikit kami sampai di Pura Penataran Agung Gunung Salak. Setelah meminta izin ke penjaga Pura untuk memotret area tersebut, kami diberi pita kuning yang wajib diikatkan di pinggang kita. Mungkin untuk membedakan antara yang akan melakukan peribadatan dan yang sekedar berkunjung.

Kami hanya diperbolehkan memotret di area-area tertentu. Kami hanya diizinkan masuk dan memotret di area Nista Mandala dan Madya Mandala. Umat memanjatkan puji-pujian kepada Sang Hyang Widi. Suasana pura yang tenang dan sejuknya hawa pengunungan sepertinya menambah kekhidmatan mereka dalam beribadah.




























Gagal Berkunjung Ke Rumah Sutra

Sudah susah-susah mencari alamat Rumah Sutra, di Ciapus, ketika sampai ditujuan malah sudah tutup. Kami datang sewaktu sore. Menurut info yang aku dapat Rumah Sutra ini memang rumah bagi peternakan ulat sutra. Cocok sekali bagi wisata edukasi. Namun sayang papan namanya yang kecil dan letaknya yang rendah menyulitkan kami menemukan tempat tersebut. I hope next time I can visit it.


















Thanks to Niko dan Ridho yang sudah ngajak jalan-jalan.